18 Kontingen Meriahkan Festival Mencari Jodoh

Gondang Naposo merupakan festival rutin di Samosir. Ini kali ketiga festival digelar dengan acara utama horas Samosir Fiesta. Tahun ini, festival diikuti 18 kontingen dari dalam maupun luar Kabupaten Toba Samosir. Mereka beradu ide koreografi tor-tor atau tarian untuk berebut predikat juara.

Gondang Naposo sendiri menurut beberapa sumber adalah tradisi mencari jodoh dalam adat Batak. Para muda-mudi yang belum menemukan jodoh datang ke Gondang Naposo untuk mendapatkan kekasih.

Gondang Naposo, tradisi mencari jodoh yang diperkenalkan lewat festival. (Prayugo Utomo/JawaPos.com)

"Ini kan tradisi. Misalnya di kampung tertentu sudah ada yang lama tidak mndapat jodoh. Tercapailah kesepakatan untuk membuat Gondang Naposo ini. Itu difasilitasi orang tua. Agar antara kampung atau generasi muda yang ingin melihat calonnya bisa melihat Gondang Naposo," terang budayawan Thomson HS yang menjadi juri dalam Festival Gondang Naposo, Sabtu (28/4).

Festival Gondang Naposo memang sengaja dibuat untuk mengingatkan generasi muda tentang tradisinya. Karena di era sekarang sudah sangat sedikit pemuda yang mau ikut ataupun mempelajari tradisinya.

Thomson menambahkan, dalam Gondang Naposo ada tor-tor khas yang selalu dibawakan. Di antaranya tor-tor mula-mula, Somba, Hatasopisit, Hasahatan dan Sitio-tio.

Dalam festival kali ini, para peserta diuji daya kreatifnya. Mereka diminta membawakan satu kreasi koreografi tor-tor. Para peserta juga diminta untuk paham arti masing-masing tor-tor itu. "Saya kira pemahaman mereka harus ada terhadap yang pakem itu. Kalau kreasi itu sesuai koreografernya yang punya ide," ujar Thomson.

Dalam setiap penampilannya, peserta memakai berbagai macam ulos. Namun ternyata dalam tradisi Gondang Naposo tidak menampilkan ulos. Karena biasanya ulos dipakai untuk orang Batak yang sudah menikah.

"Secara umum Gondang Naposo itu tidak menampilkan ulos. Kalaupun harus menggunakan ulos, harus tahu ulos apa yang keluar. Itu dari segi tradisi. Tapi kalau dalam konteks tontonan dan pariwisata, ini beberapa ulos. Ada sampai sepuluh ulos tadi yang saya lihat," ungkapnya.

Selama menjadi juri Festival Gondang Naposo, Thomson melihat ada cukup banyak kemajuan. "Antara pengetahuan peserta soal Gondang Naposo, kami lihat nanti. Tapi saya sudah dua kali jadi juri. Ada pengembangan. Sepertinya minat generasi muda terhadap ornamen tradisi dan proses menciptakan tari ini sudah muncul," terangnya.

Thomson berharap, pemerintah bisa terus memfasilitasi pelestarian budaya ini. Jangan sampai industri pariwisata yang sedang digalakkan malah menghilangkan nilai esensi dari kebudayaan Batak. "Pariwisata memanfaatkan industri budaya. Tapi jangan salah memberikan pengetahuannya. Tontonan itu bukan mainan. Jadi harus jelas pengetahuannya," tegasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir Ombang Siboro mengaku sangat mendorong pelestarian budaya. Beberapa tahun kebelakang ada peningkatan wisatawan yang hadir ke Danau Toba dan Samosir.

"Jadi Geopark itukan ada tiga dimensi. Geologinya, tumbuhannya, dan juga tentang budayanya. Ini kami lakukan untuk budayanya. Bagaimana budaya bisa jadi penyokong Geopark itu. Orang datang ke Danau Toba ke Samosir, mereka melihat budayanya," ulas Ombang.

Sementara itu, para peserta yang ikut dalam Festival Gondang Naposo rata-rata pelajar. Festival juga dihadiri tamu wisatawan lokal dan mancanegara. Rombongan Grand Fondo New York pun ikut meramaikan festival.

(pra/JPC)

Let's block ads! (Why?)

https://www.jawapos.com/read/2018/04/28/208210/18-kontingen-meriahkan-festival-mencari-jodoh

0 Response to "18 Kontingen Meriahkan Festival Mencari Jodoh"

Posting Komentar