JawaPos.com - Gerakan donasi yang digagas oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk perjuangan politiknya terus menuai reaksi. Biaya politik yang sangat besar dinilai menjadi penyebab mantan Danjen Kopassus itu akhirnya meminta sumbangan kepada masyarakat luas.
Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar mengatakan, untuk maju sebagai calon presiden (capres) memang harus menggelontorkan dana yang besar. Sebab berbagai kebutuhan biaya operasional sampai dengan biaya pemenangan tentunya tak cukup merogoh kocek yang sedikit.
"Biaya operasional keliling seluruh Indonesia tidak sedikit. Pastinya saya kurang paham, tapi saya kira triliunan rupiah dibutuhkan untuk menjadi modalnya," kata Idil kepada JawaPos.com, Minggu, (24/6).
Menurut Idil, cara Prabowo dalam membuka donasi untuk maju sebagai capres bukanlah sesuatu yang fenomenal di dunia politik. Hanya saja, baginya, cara ini kurang lazim. Sebab masyarakat Indonesia pastinya menilai politik sebagai ranah publik yang padat modal.
"Artinya yang terjun ke politik, lebih-lebih mendirikan parpol adalah orang-orang yang punya kemampuan finansial di atas rata-rata," ucap Idil.
Atas dasar itu, Idil pun mempertanyakan apakah faktanya partai Gerindra tengah krisis keuangan atau tidak. Sebab sudah banyak parpol yang terindikasi tidak mempunyai modal justru akan berakhir bubar ataupun berakuisisi dengan parpol lain.
"Dalam konteks ini pula menjadi refleksi bahwa politik di Indonesia masih dominan penggunaan modal yang besar untuk tetap bertahan, lebih-lebih untuk menang," tuturnya.
"Pertanyaannya apakah benar Gerindra separah itu soal modal parpol sehingga harus membuka donasi ke masyarakat?," sambungnya.
Sementara itu, Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Jayabaya Lely Arrianie menyebut, Prabowo bisa saja dapat meminimalisir ongkos politik yang akan dikeluarkannya di pilpres 2019 mendatang. Sebab dalam berpolitik, kompetensi dan kemampuan merupakan modal utama memenangkan pilpres.
"Ongkos politik mahal itu tergantung kandidat, jika kandidatnya dianggap punya kemampuan untuk memperjuangkan kemenangan dengan elektabilitas yang tinggi dan manajemen serta kerja politik yang memadai sebenarnya tidak sebesar yang dibayangkan," ucap Lely.
Misalnya saja, kata Lely, pencalonan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kala maju sebagai Gubernur DKI Jakarta 2012 lalu. Kala itu, mantan Wali Kota Surakarta itu tak perlu mengeluarkan pundi-pundi besar untuk mendapatkan suara masyarakat.
"Tak perlu Jokowi banting tulang mengemis dana dan dukungan materil. Tokoh masyarakat bergerak sendiri mengisi pos-pos peluang memuluskan majunya kandidat," ujarnya.
Atas dasar itu, Lely menyarankan, baik Prabowo ataupun kandidat lainnya yang akan maju sebagai capres untuk mulai dari jauh hari melakukan investasi sosial untuk meminimalisir ongkos politik. Sebab banyak kasus yang memperlihatkan pemilik modal lebih banyak tak selalu akan memenangkan kontestasi di politik.
"Ada di banyak daerah mereka yang menyiapkan cost politik lebih banyak juga bisa kalah. Kecuali jika memang pihak lawan mengalami musibah politik sehingga ongkos politik dan sentimen tertentu ikut bisa dimainkan," tutupnya.
(aim/JPC)
https://www.jawapos.com/read/2018/06/24/222433/prabowo-terima-donasi-pengamat-pertanyakan-modal-gerindra
0 Response to "Prabowo Terima Donasi, Pengamat Pertanyakan Modal Gerindra"
Posting Komentar