JawaPos.com - Lantunan azan Subuh menggugah hati muslim yang berada dalam Kapal Innerie II untuk segera mendirikan salat. Pagi itu, Rudi, Refitia, dan belasan relawan lain yang tergabung dalam misi Kapal Ramadan Aksi Cepat Tanggap (ACT) baru saja selesai sahur.
Kurang dari satu jam kemudian, kapal mulai memasuki wilayah Labuan Bajo. Tepatnya pukul 05.30 Wita, Jumat (1/6). Hangatnya matahari pagi menyambut tim relawan yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga di Maumere, Manggarai, Manggarai Barat, serta Manggarai Timur.
Sekurang-kurangnya 3.700 paket sembako terdiri dari beras, gula, minyak dan ikan asin dibagikan kepada warga kurang mampu di empat kabupaten di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) itu. Perjalanan tim relawan mengantarkan ribuan paket sembako tidaklah mudah.
JawaPos.com berkesempatan mengikuti distribusi donasi ini mulai dari awal keberangkatan, pada Kamis (31/5), sekitar pukul 07.00 Wita. Lama perjalanan dari titik keberangkatan di Dermaga Garongkong, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan membutuhkan waktu hingga 25 jam.
Keberangkatan kapal sempat tertunda beberapa jam. Menurut informasi dari kapten kapal, kapal sulit keluar dari dermaga, akibat banyaknya tambak ikan warga. Namun, perjalanan yang penuh tantangan itu tak menyurutkan niat dan semangat para relawan untuk berbagi.
Achmad Farudi, nama lengkap Rudi, merupakan salah seorang relawan yang bergabung dalam misi kemanusiaan ini. Dia bersama dua orang rekannya berasal dari Bali, dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI).
Bagi remaja 18 tahun ini, menjadi relawan adalah panggilan jiwa. "Kami bertiga dari Bali, berbekal niat untuk membantu sesama, ingin menjadi relawan, bergabung bersama ACT," tuturnya saat berbincang dengan JawaPos.com.
Meski belasan jam terombang-ambing di atas laut, namun Rudi tetap semangat mengantarkan bantuan hingga ke tujuan. "Sudah biasa membantu. Sewaktu Bali ada erupsi Gunung Agung, saya juga bersama tim MRI ikut membantu korban erupsi," ucapnya seolah menyiratkan dalam setiap pekerjaan baik pun selalu ada tantangan.
Semangat serupa juga ditunjukkan salah seorang relawan dokter dari Universitas Indonesia (UI), Refitia, 25. Pemilik nama lengkap Refitia Inayah Putri itu termotivasi ikut dalam misi ini lantaran melihat akses kesehatan warga NTT yang masih minim.
"Karena alasan tersebut kami berharap pelayanan kesehatan dapat menyentuh masyarakat di daerah terpencil. Jadi, mereka dapat memanfaatkan layanan kesehatan ini untuk berobat,” tutur dokter gigi itu.
Ia pun berharap, warga yang tadinya kesulitan mengakses layanan kesehatan, bisa segera berobat dengan kehadiran Kapal Ramadan ini.
Mengantarkan sembako dengan menggunakan kapal di bulan Ramadan benar-benar menjadi pengalaman berbeda bagi para relawan. Waktu berbuka, mereka membatalkan puasa dengan minuman dan makanan seadanya.
Meski begitu, suasana akrab ditambah kesamaan semangat dari para relawan seolah memberikan suntikan energi lebih. Usai berbuka puasa, mereka melanjutkan ibadah salat Isya' dan tarawih di atas kapal, Kamis malam.
Suara deru ombak bersahut-sahutan dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, yang dibacakan oleh imam. Ketika malam tiba, mereka beristirahat sejenak, hingga pukul 03.40 Wita, saat sahur tiba.
Meski sempat didera kecemasan lantaran pagi buta itu gelombang sedikit agak lebih tinggi, namun akhirnya Kapal Innerie II berhasil merapat ke tujuan dengan selamat, pada Jumat (1/6) pukul 07.00 Wita. Ribuan donasi pun langsung dibagikan.
(rdw/JPC)
https://www.jawapos.com/read/2018/06/02/217237/25-jam-menembus-dinginnya-laut-lepas-untuk-misi-kemanusiaan
0 Response to "25 Jam Menembus Dinginnya Laut Lepas untuk Misi Kemanusiaan"
Posting Komentar