JawaPos.com - Insiden pengadangan dan pengusiran tokoh gerakan #2019GantiPresiden Neno Warisman di Riau, dikeluhkan banyak pihak. Salah satunya, Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Ma'rif.
Slamet menilai, kejadian itu sebagai bagian dari persekusi yang tak manusiawi dan telah menciderai demokrasi. Apalagi, lanjutnya, aparat keamanan terkesan acuh dalam kejadian tersebut.
"Aparat keamanan dan penegak hukum adalah wasit. Hati-hati, jika sampai wasit ikut bermain di lapangan, maka jangan salahkan penonton masuk ke dalam lapangan," kata Slamet dalam keterangan tertulisnya, Minggu (26/8).
Slamet juga mengungkapkan, gerakan #2019GantiPresiden merupakan aksi yang sah secara konstitusional. Karena itulah ia meminta aparat kepolisian justru melindungi kegiatan tersebut.
"Jangan halangi kebebasan berpendapat yang dijamin UU dan tidak melanggar konstitusi. Harusnya aparat ikut melindungi jangan dikasari, rangkul jangan dipukul, melebur jangan digusur. Umat akan melihatmu berbudi luhur," pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, kejadian penolakan Neno Warisman dalam kampanye 2019 Ganti presiden terjadi pada Sabtu (25/8) lalu. Sejumlah massa menghadang mobil Neno untuk keluar dari bandara.
Neno sempat tertahan sampai lebih dari 6 jam sampai akhirnya memutuskan pulang dari tempat tersebut. Lantaran kejadian itu, banyak tokoh nasional yang menyayangkan sikap aparat keamanan yang terkesan acuh dalam kejadian tersebut.
Mereka menuntut Kapolda Riau untuk dicopot dari jabatannya. Pasalnya, ia dinilai tak dapat memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat pendatang.
(aim/JPC)
https://www.jawapos.com/read/2018/08/26/238560/insiden-2019gantipresiden-pa-212-harusnya-aparat-ikut-melindungi
0 Response to "Insiden #2019GantiPresiden, PA 212: Harusnya Aparat Ikut Melindungi"
Posting Komentar